Monday, October 14, 2013

ketika generasi tenda biru bertemu dengan generasi naruto




How lucky I am have amazing opportunity to have quite close relationship with Gen Z. Sebagai seorang Recruiter sekaligus penanggung jawab Talent Management, profesi saya mengharuskan banyak dekat dengan para Generasi ‘Text Me’ alias generasi dengan usia 20an....

Mulai menjadi Ibu di Departemen yang berisi Generasi berusia kurang dari 30an, mencari para Fresh Graduate dari beberapa Perguruan Tinggi, sampai mengurus  manajemen talenta bagi para Management Trainee yang notabene saat ini berusia 20-an itu. Menyenangkan bukan? Yup, paling tidak kelincahan, energi dan dinamitas mereka menular pada saya dan memberikan spirit yang luar biasa. Pendek kata I keep ‘Young at Heart’ laaah (nyuplik judul lagu daur ulang Frank Sinatra yang dinyanyiin sama si Michael Buble). 

Mulai memahami bahasa-bahasa gaul mereka, pola pikir mereka yang serba cepat secepat munculnya menu-menu baru di Play Storenya Android icon gaul mereka. Paham atas impian mereka, dan apa yang berbeda dari Generasi saya dan generasi mereka. Mereka haus akan kebebasan berkreasi dan bertindak, sementara di lingkungan kerja tidak memfasilitasi keinginan mereka untuk bergerak, itulah yang kemudian Generasi ini dianggap kurang punya daya juang yang tinggi. Mungkin ketelatenan Generasi sekarang memang kurang di stimulasi dalam berproses. 


Protes? Ok ok...ambilah contoh didunia Perguruan Tinggi...
Jaman kakak-kakak senior saya (jaman dimana Lagu Iwan Fals, Betaria Sonata dll menjadi ‘trending topic’ he he he), kuliah jarang ada yang lulus 5 tahun... Mereka lulus bisa >6 tahun (hmm..ngapain aja yah di kampus?). Jaman saya (jaman lagunya Tenda Biru dan Desi Ratnasari jadi Idolah) kuliah ya 5 tahun lulus, okeeeeiiii laaahh..... bergeserlah jaman dimana lulus 4,5 tahun adalah ‘norm’, bergeser lagi menjadi lulus secara umum 4 tahun daaan sekarang Perguruan Tinggi mulai trend mengeluarkan program : Akselerasi, Percepatan, Fast Track, Bundling, dll yang intinya Mahasiswa bisa lulus S1 dan S2 selama 5 tahun asal serius belajar (itu artinya 3,5 tahun di S1 dan 1,5 tahun di S2). 

Terbukti kan kalau Generasi Naruto ini memang hidup dijaman yang serba cepat dan instan. Jaman saya, si Generasi Tenda Biru ini, hidup dimasa chanel televisi hanya ada 1 yaitu TVRI dan menjadi saksi hidup atas lahirnya TV – TV swasta lainnya di Indonesia. Beda sama Generasi Naruto, mereka hidup masa begitu banyak pilihan chanel. Apakah itu yang membuat kami, Si Generasi Tenda Biru untuk bisa setia pada 1 pilihan dalam jangka waktu lebih lama dibandingkan Generasi Naruto. (Jaman saya masih bisa ‘terpaksa’ setia pada tayangan Si Unyil, suka atau tidak suka #eeeaaah). 

Naaah, saya mau berbagi pengalaman tentang apa yang saat ini saya jalani, sebagai Mahasiswa dengan Faktor ‘U’ (baca: faktor USIA) paling matang dibanding yang lain. Saya sedang melanjutkan studi S2 (lagi) di bidang Manajemen. Surprised, 1 kelas yang berisi sekitar >30 mahasiswa, hanya ada 4 mahasiswa yang berasal dari generasi ‘ Tenda Biru’ (itupun saya termasuk yang paling tuwah matang). Apa jadinya? Jujur, saya sempat galau berpikir ulang mengenai keputusan mengambil studi ini. Tapi saya langsung mengafirmasi diri untuk kembali pada tujuan awal, yaitu menguatkan karir profesional saya. Okeeeiii, mumpung masih ada waktu, tenaga dan kesehatan (serta biaya tentunya) maka lanjut studi S2 (lagi) harus segera dijalankan. Apalagi keputusan ini didukung penuh oleh Suami dan Anak. 



Vioolaaah, pendek kata saya mulai K-U-L-I-A-H.
Saya tidak akan banyak bercerita tentang isi kuliahnya. Namun yang ingin saya bagikan lebih pada bagaimana saya beradaptasi pada proses sosial dengan perbedaan faktor ‘U’ tersebut. Beda usia, beda generasi, beda cara pandang, tentunya beda pengalaman serta beda latar belakang pendidikan. Kemajemukan ini membuat diskusi kami seru dan berwarna. Namun ada kalanya kami yang lebih senior harus bisa menempatkan diri untuk bersama-sama menjalani proses pembelajaran. 

Dan pengalaman yang paling berkesan adalah ketika kami mengikuti Program Adi Nurani (Ajar Diri Asah Nurani), satu program yang dibuat oleh Pasca Sarjana Ubaya dengan tujuan mencetak lulusan yang tidah kanya pintar namun sejalan dengan itu memiliki kemampuan mengendalikan diri dan memiliki nurani yang baik. Kegiatannya dibuat 2 hari 1 malam, dan cukup melelahkan secara fisik. Hari pertama diawali dengan perkenalan, Kuliah Tamu, Indoor Activity berupa Games tebak lagu. Dan inilah mulai saya mengalami kondisi yang benar-benar disorientasi generasi. Gimana nggak, semua lagunya 2010 keatas laaah..... Mulai One Direction, Band Lokal sekarang sampai Naruto lengkap dengan sesion berapa (tepok jidat) dan dari sekian banyak lagu, lagu yang mewakili jaman kami cuma 1: TENDA BIRU (oooh feeling so sad). 

Saya benar-benar berpikir keras untuk menjawab tebakan-tebakan lagunya. Sampai sampai saya cuma bisa melontarkan joke: Generasi Tenda Biru vs Generasi Naruto. 



Malam harinya, pada saat Pemaparan Tugas Business Plan, again saya dibuat terkagum-kagum oleh paparan pemikiran dan ide bisnis dari generasi Naruto. Mereka membuat presentasi dengan pemaparan lebih lengkap dari pada yang seharusnya dibuat. Wow, it’s gonna be a stuff competition to get best score in class. Gak papa wes sing penting kuliah kali ini dapat imbang antara nilai, proses dan nilai-nalai plus lainnya (seperti persahabatan dan pemahaman terhadap keberagaman). 

Semakin larut malam, saya semakin dibuat kagum oleh para generasi Naruto melalui talent shownya. Kalo bahasa gaul anak muda disini: ciamik cak! Gimana gak, mereka persiapannya sangat matang. Idenya pun beragam. Salutt! Menghibur sekaligus memberikan pesan moral yang dalam dari tema yang ingin disampaikan. Saya, Si Generasi Tenda Biru semakin merasa mengalami kemunduran kreatifitas akibat pola pikir yang semakin kompleks ha ha ha. 

Keesokan harinya, acara dikemas berbeda. Outbound! Nah..disini mulailah kemampuan Kepemimpinan, problem solving, teamwork dan serta pengendalian diri teruji dan tampak. Keruwetan selalu terjadi manakala harus menyelesaikan permainan. Dan terjadi karena setiap individu masih ingin menonjol sehingga ingin didengar. Manakala idenya tidak didengar dan dipakai, mereka akan cenderung mundur dan bersifat pasif tanpa berusaha untuk menyatakan idenya secara lebih tenang. Singkat kata, kematangan emosi mereka masih perlu distimulan oleh perjalanan hidup.



Pada permainan yang bersifat pertandingan, keinginan untuk mengalahkan lawan sangat kuat, sehingga proses permainan, have fun dan tanpa melupakan strategi cenderung kurang. Mungkin perbedaan pengalaman dan tuntutan peran belum menguji dan membentuk rasa sportifitas dan kebersamaan yang mana permainan-permainan para Generasi Naruto memang tidak didesain demikian. 

Tapi diantara kegelisahan saya mengenai Generasi Naruto yang cenderung individualis, saya masih bertemu dengan individu-individu yang humble, yang mau mendengarkan kata-kata dari seniornya, bersikap respect, serta tidak mengedepankan egonya...dan yang terpenting dalam proses bukan sesuatu yang instant melainkan sesuatu yang harus dengan sabar dijalani tak kenal lelah sehingga daya juang mereka terasah dengan baik. 

Oya sebelum menutup tulisan ini, saya masih memiliki kegelisahan lainnya, yaitu bagaimana mengkolaborasikan antar Generasi, yaitu Generasi Beatles – Generasi Vina Panduwinata - Generasi Tenda Biru – Generasi Naruto dapat menari bersama dan berkolaborasi di dunia kerja. Saya akan bagikan pengalaman yang saya alami di tulisan berikutnya.

2 comments:

  1. Nice point of view from 80's generation....hehehe its our job to show how to enjoying the proses....

    ReplyDelete
  2. Waaae.. Hidup Mami Rov Deviiiii yay xD

    ReplyDelete