Wednesday, December 5, 2012

TERIMA KASIH, PAK INO



Workshop AI - 2007


Tulisan ini adalah bentuk penghormatan kepada guru hidup saya. Bapak Ch. Daniel Ino Yuwono.

1,5 tahun saya berguru pada Bapak. Awal pertemuan saya dengan Bapak di tahun 2007 di Workshop Appreciative Inquiry yang digagas oleh Mas Bukik. Saya belum mengenal Bapak saat itu. Namun saya bisa merasakan Bapak memiliki karakter yang kuat dan tegas. 

July 2010, saya kembali berjumpa dengan beliau pada saat wawancara Calon Mahasiswa MPPO. Pertanyaan Bapak begitu mudah, “Apa itu organisasi?” namun setiap jawaban saya didebat habis. Sehingga saya memutuskan untuk mengalah, senyum-senyum, dari pada saya semakin megap-megap. Saya terdiam dan mencoba memahami apa isi dari kalimat yang disampaikan. Toh saya tidak akan menang melawannya kebengisan Bapak saat itu :D

Agustus 2010, matrikulasi dengan Bapak, saya masih bingung dengan materi yang disampaikan. Apalagi saya bukan berlatar Psikologi plus mantan mahasiswa dengan pencapaian nilai sangat rata-rata. Pemikiran Bapak yang meloncat-loncat membuat saya harus berpikir keras merangkaikan menjadi suatu gambar yang utuh. Satu hal yang saya kagum dari Bapak, seluruh pertanyaan saya, bisa menjawab dengan pendekatan praktisi, lengkap dengan teori yang melandasinya. 

Setiap pulang kuliah, saya bercerita pada suami, tentang bagaimana ‘dangkalnya’ ilmu yang saya miliki saat berhadapan dengan Bapak. Aneh! Bapak bisa menjawab seluruh pertanyaan saya dari banyak sudut pandang. Jawaban-jawaban yang disampaikan menunjukkan betapa luasnya pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Saya pun bertekad untuk belajar banyak dari Bapak.

September 2010, badai besar datang dalam kehidupan saya. Kuliah MPPO yang terlanjur saya ambil, serta tugas-tugas yang disiapkan oleh para pengajar banyak sekali dikaitkan dengan tempat kerja. Saya (tiba-tiba) berstatus ‘tidak bekerja’ saat itu. Dan tugas yang dibuat dengan menganalisa suatu kondisi ditempat kerja semakin mengiritasi secara emosional. Saat itu Bapak yang biasanya berkata keras, menunjukkan sisi humanis. Bapak paham betul saya butuh waktu untuk menganalisa disaat secara emosi tidak mendukung. 

Saya ingat  materi-materi yang bapak share kepada kami pada kuliah pengembangan diri, seolah menjadi jawaban kondisi saya saat itu, tentang kekuatan untuk bertahan dan berdamai dengan keadaan. Sangat menyentak saya dengan cara yang lain. Pendekatan bapak memberikan motivasi sangat unik seolah paham betul karakter saya yang tidak akan tersentuh dengan model motivator ‘salam super’ :D

Ini menjawab pertanyaan, mengapa Bapak begitu berkesan dihati saya. Bapak menyimpankan tabungan kekuatan dan keberanian dalam diri saya, justru pada saat saya punya ‘hak’ untuk menangisi kehidupan. 


Nopember 2010, saya ingat betul ketika sering datang terlambat karena interview, Bapak memberikan ijin seolah paham arti pekerjaan yang menjadi kebutuhan finansial saya saat itu. Bapak selalu menanyakan saya interview di Perusahaan apa, dan membahas seperti apa organisasi yang baru saja mengundang saya. Tentunya ini adalah pembuktian tentang cara ‘ajaib’ yang Bapak punyai untuk mengajarkan hal baru sekaligus perhatian seorang guru pada muridnya. Terima kasih Bapak, karena memahami dan mempercayai saya saat itu.

Desember 2010, saya diterima kerja disebuah perusahaan local family business. Perubahan kembali terjadi, jadwal kuliah sabtu tidak bisa saya hadiri karena tempat kerja yang baru menetapkan 6 hari kerja dan tidak memfasilitasi karyawannya untuk mengikuti kuliah pada jam kerja. Saya bertanya pada Bapak tentang hal ini, tentang kekhawatiran saya yang tidak mungkin memilih mengorbankan salah satu, pekerjaan atau menyelesaikan kuliah. Sisi kebapakan begitu tampak: ‘Tidak apa-apa Rowen, yang penting kamu belajar sungguh-sungguh. Semuanya bisa diatur’ (Bapak, terima kasih atas pengertiannya :D).

Scent of Woman - Film favorit di MK. Leadership


November 2010 – Agustus 2011, Bapak mendedikasikan komitmen untuk memberikan kuliah di akhir pekan ataupun malam-malam diatas jam kerja normal. Sungguh, saat itu sering saya lihat wajah Bapak kelelahan, namun tidak pernah sekalipun Bapak kehilangan semangat. Beberapa ujaran-ujaran Bapak yang saya ingat dengan baik:

"Pak Ino, saya kan sekarang sedang nganggur. Gimana saya bisa kerjakan tugas analisa ini?" Dan jawaban Bapak diluar dugaan "Tenang Rowen, gak lama lagi pasti dapat kerjaan"

“Setiap rencana harus ada tindakan nyata!”

“Rowen, kamu punya cita-cita buka headhunter sendiri? Tau gajinya ekspatriat? (saya sebut angka) Tau gajinya direktur? (saya sebut angka)...yo wes ndang direalisasikan mimpimu” (Mata Kuliah Strategy Management)

“Saya sebenarnya berharap strategi yang kamu buat lebih bagus dari yang barusan kamu sampaikan” (Mata kuliah Strategy Management) -cettaaar, maaf ya Pak saya masih kurang berilmu-

“Simple. Dari banyaknya teori leadership, sampai buku2 yang saya baca, yang dinamakan pemimpin punya ciri-ciri 3 hal: menginspirasi, punya pengikut, dan punya pengaruh!” ( Mata Kuliah Leadership) - Yes sir, and you are the one who have those qualifications -

Model pemimpin wanita iku senengane ngomong-ngomong, diskusi langsung karo anak buahe (Mata Kuliah Leadership) - sampai akhirnya tahu fenomena Glass Ceiling -

Dan masih banyak pesan kehidupan yang saya dapatkan dari Bapak, spirit belajar yang tidak boleh padam, membaca-membaca-membaca- dan membaca, kekuatan menghadapi segala sesuatunya, keberanian untuk selalu mempertanyakan status quo, berpikir kritis dalam melihat sebuah fenomena, memahami situasi yang sebenarnya. 


September 2011 – Maret 2012, Penguatan Kompetensi dan penyusunan tesis  pun dilalui. Saya mendapat banyak sekali ‘tantangan’ dari Bapak. Bapak sebagai Dosen Pengajar sampai Dosen penguji banyak sekali melengkapkan saya sebagai seorang pembelajar. 

“Kenali atasanmu. Dia model pemimpin yang kayak apa? Pemimpin yang mau maen dakon bareng karo anak buahe, yo bedo pendekatan karo pemimpin sing nyepakno latar trus mempersilahkan anak buahe mainan dakon di latarnya tapi gak gelem dolanan bareng. Fenomenanya bisa sama, tapi menyikapinya lain-lain. Tergantung nilai-nilai yang dianut”

“Kabeh kok intervensinya kok pake AI (Appreciative Inqiry), gak isok intervensi lainnya taa?” - ini alasan saya tertantang 'nambah’ intervensi ke 2 buat Tesis.

“Opo'o kok Employee Engagement sing mbok teliti? Sesuai tha sama kultur jawa?....yoo lek gawe dodolan ben ketok pinter yo gak popo, tapi lek gawe penelitian intervensi gak oleh sembarangan! Harus kritis!” 

“Employee Engagement? Apa padanannya Employee engagement di Budaya Jawa? Seorang OD harus kritis!” 

....dan yang sampai hari ini saya belum mendapatkan jawabannya, padanan Employee Engagement dalam Budaya Jawa. Saya akan cari, Bapak.

Sekarang saya tersadar ternyata, sehebat apapun kita sebagai seorang OD (Organization Development), kita harus kritis dan kembali ke budaya setempat yang menjadi akar. Tidak secara mudah menerima sebuah tool baru dan menganggap tool tersebut pasti baik untuk dijalankan. 

Terima kasih Pak Ino.
Semoga Tuhan memberikan ketenangan dan tempat terbaik disana.




2 comments:

  1. makasih sudah berbagi mbak. Setiap tulisan mengenai beliau selalu bikin saya merinding. Dia memang guru sejati.

    ReplyDelete
  2. Sama-sama mas Ardi.
    Setiap saya baca tulisan lain tentang Pak Ino, saya menangis. Saya kehilangan beliau. Yang gak kenal Pak Ino pasti menganggap saya emosional, I do not care. Beliau guru yang membuat saya berdiri dengan percaya diri pada saat saya punya hak untuk berdiam dikamar meratapi nasib.

    ReplyDelete