Saturday, December 29, 2012

.....DAN JIWA ITU BERNAMA: ORGANIZATION DEVELOPMENT.....


source: goulao/flickr.com

Buat saya, Organization Development (OD) adalah aplikasi tindakan yang pendekatannya melalui sebuah ilmu pengetahuan dan ‘jiwanya’ harus dipahami dan dihayati. Selain itu, kompetensi dan keahlian melakukan intervensi OD juga harus didampingi dan diuji oleh lembaga resmi yang berkompeten dibidangnya  sebelum di jalankan, apalagi diakui sebagai profesi, jabatan ataupun keahlian yang dimiliki. 

Tergelitik  pada perdebatan mengenai Organization Development Specialist yang akhir-akhir ini di milis-milis HRD, saya sebagai lulusan Perubahan dan Pengembangan Organisasi dari sebuah Perguruan Tinggi merasa ikut bertanggung jawab secara moral manakala keilmuan OD yang oleh beberapa expert HR dengan mudah dilontarkan secara parsial. Semakin tertantang manakala, pengetahuan yang secara parsial-parsial tersebut dibagikan tidak secara utuh, dimudahkan dan dikhawatirkan semakin mengaburkan makna inti dari ilmu Pengembangan Organisasi itu sendiri. 


Diskusi saya dengan seorang rekan lulusan Profesi Psikolog sekaligus S2 dari sebuah akademisi PIO (Psikologi Industri Organisasi), saya pun ditantang untuk meluruskan pemahaman mengenai Organization Development dengan cara yang mudah. Apalagi kalo tidak dalam bentuk ‘analogi’. 

Saya akan menganalogikan Organization Development dengan dunia medis. Mengapa medis? Ya, karena proses Organization Development mirip dengan dunia kesehatan. Ada gejala, ada diagnosa masalah, ada intervensi pengobatan (tindakan medis) dan ada evaluasi mengenai kemajuan pengobatan. 

source: kelehen/flickr.com
Sebelum seseorang memutuskan untuk berangkat ke Dokter untuk memeriksakan kesehatannya atau sekedar ada kesadaran untuk general check up, seorang pasien pasti akan mengalami kondisi yang disebut gejala. Entah itu gejala pusing – pusing, mual-mual, nyeri pada bagian tertentu. Atau berangkat ke Dokter untuk sekedar konsultasi kesehatan, misalnya perawatan gigi, ataupun medical check up. Layaknya seorang pasien, Organisasi menghadapi kondisi yang sama. Bisa sakit, bisa sehat dan ingin tumbuh berkembang, serta ingin bertahan hidup. Saat itulah, Organization Development dibutuhkan. OD layaknya paramedis atau ahli medis. Manakala Organisasi menghadapi kondisi: perampingan, merger, akuisisi. Ketika organisasi menghadapi isu turn over yang tinggi, kepemimpinan, OD dibutuhkan.

Layaknya sebuah proses penyembuhan kearah penyehatan, OD mengenal tahapan yang hampir sama. Seorang paramedis akan memulai dengan memahami gejala-gejala sakit dengan menanyakan keluhan-keluhan. Seorang praktisi OD selayaknya memulai proses observasi organisasi dengan pendekatan-pendekatan pengetahuan yang dimiliki. Idealnya, observasi organisasi didasari pengetahuan mengenai perilaku organisasi, desain organisasi, teori organisasi dan model kepemimpinan yang ada pada organisasi tersebut. Sama bukan dengan seorang Dokter (profesi yang paling umum dan layak melakukan proses penyembuhan pada pasiennya). Seorang Dokter akan menggunakan pendekatan dan kompetensi keilmuannya pada saat melakukan diagnosa kondisi pasien. Apakah selain dokter bisa melakukan diagnosa kesehatan pasien? Bisa, tergantung kemantapan diri kita pada pihak yang melakukan proses penyembuhan itu sendiri. Didekat rumah saya ada praktek pengobatan alternatif yang setiap paginya ramai dikunjungi oleh pasien-pasien dari berbagai kota. Mau contoh lain? Di daerah tempat suami saya berasal, masyarakatnya banyak yang mempercayai perawatan dan penyembuhan kesehatan kepada seorang mantri dibandingkan Dokter yang bertugas resmi disebuah Puskesmas. 

source: herbal.obat.blogspot.com
Dilanjutkan diagnosa atau observasi, seorang paramedis atau ahli medis akan melakukan rencana pengobatan yang dilanjutkan pada pengobatan itu sendiri. Kalau di bidang OD, fase ini disebut dengan fase intervensi. Dimulai rencana intervensi, yaitu dengan mempertimbangkan dengan matang resiko dan dampak apabila intervensi tersebut dilaksanakan. Seorang praktisi OD, idealnya dibekali kompetensi analisa dan berpikir secara sistematis, dengan mengutamakan nilai-nilai humanis.

Sama dengan dokter, sebelum memutuskan serangkaian pengobatan untuk pasiennya, dia akan memikirkan rencana pengobatan yang paling tepat bagi pasiennya. Dosis obatnya bagaimana? Apakah perlu berobat jalan atau rawat inap? Apakah perlu dilakukan operasi? Kalau perlu dilakukan operasi pembedahan, berarti harus menggandeng Dokter Spesialis Anastesi.  Persis dengan tahapan OD dalam hal perencanaan intervensi, jenis intervensi yang direncanakan harus disesuaikan dengan gejala, penyebabnya dan tujuan yang akan dicapai. 

Sebelum intervensi dilakukan, ada proses penjelasan agar rencana perubahan diterima dengan baik. Disinilah kemampuan seorang ahli medis ataupun OD praktisi dibutuhkan. Seorang OD praktisi selayaknya memiliki kemampuan konsultasi. Fase ini sama pentingnya dengan proses lainnya. Pada saat konsultasi gagal, ide tidak terbeli. Rencana perubahan dan pengembangan mengalami penolakan. Kebayang kalo seorang pasien ataupun keluarga pasien tidak setuju dengan rencana pembedahan yang dilakukan oleh seorang Dokter? Resiko yang akan dihadapi akan diserahkan sepenuhnya pada sang Dokter, tanpa mau tahu bahwa sebagian dari persetujuan tindakan medis juga harus disetujui oleh pihak pasien dan keluarganya. Hmmmm.....

source: medicalexpert/flickr.com
Mari kita asumsikan rencana intervensi telah disetujui. Maka proses intervensi akan dimulai. Inilah yang disebut proses perubahan atau proses pengobatan. Ini proses yang paling menentukan keberhasilannya dalam rangkaian OD. Sama halnya dengan pasien yang telah disetujui untuk menjalani operasi bedah. Proses ini adalah proses penentuan penyembuhan. Layaknya ilmu medis, pelaksanaan medis harus dilakukan oleh pihak yang memang memiliki kemampuan dibidang tersebut. Bisa dibayangkan bila pembedahan tidak dilakukan oleh Dokter Bedah yang teruji, dan melewati proses pendampingan oleh para ahli dibidangnya sebelum dilepas melakukan pembedahannya sendiri. (Saya hanya menganalogikan saja he he he, sisanya silahkan diimajinasikan sendiri.....). 

Kembali pada pembahasan OD, pada proses intervensi, seorang praktisi OD dibekali kemampuan Change Management, lagi-lagi cara pandang humanis harus dipegang teguh oleh praktisi OD karena ini bicara tentang perubahan yang dilakukan oleh sekumpulan orang-orang didalam organisasi tersebut. Ide dan rencana harus sudah disepakati oleh orang-orang yang ada didalamnya. Dan, praktisi OD harus mendampingi dan menghayati proses perubahan tersebut! Kepandaian menjadi seorang fasilitator sangat dibutuhkan pada proses ini. Nilai-nilai kolaborasi untuk bergerak dan menari bersama dalam perubahan juga dibutuhkan. 

source: orrange/flickr.com
Apapun bentuk intervensinya, bisa jadi intervensi dalam perubahan tools (misalnya SAP, ERP), perubahan SOP, perubahan strategi perusahaan, perubahan kepemilikan, Six Sigma, TPM, TQM, atau apapun, semua perubahan muaranya akan berujung pada perubahan cara pandang dan perilaku orang-orang yang ada dalam organisasi tersebut (Yess, terjawab mengapa Kuliah Perubahan dan Pengembangan Organisasi ada pada Departemen Psikologi Industri Organisasi). Sedangkan tools dan sistemnya bisa menggandeng para ahlinya dengan latar belakang profesi dan pendidikan yang berbeda pula. (Layaknya analogi seorang Dokter bedah yang menggandeng Dokter Anastesi).

Balik ke analogi medis, pada saat pasien sudah mendapatkan tindakan medis dalam bentuk operasi bedah, pasti sang ahli yang sudah melakukan pembedahan akan melakukan evaluasi dampak dari tindakan medis itu sendiri.

Sama halnya dengan OD ataupun keilmuan manajemen lainnya, setelah intervensi dilakukan, akan diakhiri dengan proses evaluasi keberhasilan terhadap program yang sudah dilakukan. Pada tahapan OD juga sama, akan diakhiri dengan pengukuran keberhasilan intervensi untuk mengetahui apakah perlu dilakukan intervensi lainnya, ataukah intervensi tersebut sudah cukup. Bagaimana caranya? Tergantung pada intervensi yang dilakukan. Bisa menggunakan metode kualitatif, kuantitatif ataupun penggabungan 2 metode tersebut.  

source: google/image/sinshe
Menutup tulisan ini, saya akan kembalikan pada analogi medis dalam memaknai kata OD. Apakah kita akan menyerahkan perawatan medis pada sinshe, tabib, dukun, bidan, mantri, Dokter Umum ataukah Dokter Spesialis? Dan apabila kita dipercaya untuk menjadi seorang OD Spesialis, kembalikan lagi maknanya pada definisi OD itu sendiri. Konsep apa yang diyakini oleh Organisasi anda tentang OD? Saya pribadi akan menolak tawaran kerja sebagai OD Manager apabila konsepnya bertentangan dengan yang pemahaman OD saya yakini. Saya memilih dengan jabatan saya saat ini namun dengan membawa ‘jiwa’ OD dalam menjalankan peran profesi saya.   Semoga tulisan ini dapat memberikan pemahaman mengenai OD.


Penulis:
Rovien Aryunia, S.Pd., M.PPO.
Lulusan Magister Perubahan dan Pengembangan Organisasi
Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga Surabaya

2 comments:

  1. Info yang menarik sekali terutama bagi pemula seperti saya. Kalau boleh tau apa saja yang diperlukan untuk memulai karir sebagai seorang OD ya, bu Rovien? Mungkin bisa juga merekomendasikan beberapa literature yang bisa saya jadikan tambahan ilmu seputar HR.
    Saya selama ini fokus ke Recruitment, namun sebagai bagian dari pengembangan diri, saya tertarik untuk tau lebih banyak lagi mengenai OD.
    Terima kasih atas bantuannya.

    ReplyDelete