Friday, October 19, 2012

PROUD OF MY JOB: EDISI BELAJAR DARI BANYAK ORANG




As recruiter, hal yang menyenangkan adalah bertemu dengan banyak orang. Setiap hari saya bisa membaca puluhan aplikasi yang masuk. Kadang saya juga secara sengaja, mencari kandidat yang tidak melamar melalui jejaring sosial. 

Membaca daftar riwayat hidup atawa Curriculum Vitae atawa Resume, memberikan inspirasi buat saya tentang perjalanan hidup berbagai macam orang. Saya bisa menemukan seseorang yang memilih jalannya untuk menjadi ‘biasa saja sesuai norma’. Saya bisa menemukan seseorang yang luar biasa dalam menaiki tangga karir. Dan saya bisa menemukan orang yang bisa keluar dari sebuah badai besar dengan penuh semangat.
Itu baru seleksi administrasi.

Ketika bertemu untuk interview pertama kali, saya selalu menemukan pengalaman tidak terduga dari para kandidat. 

Kemarin, saat saya melakukan interview di sebuah Universitas Negeri. Diantara banyaknya Gen Y yang katanya, karena lahir dan tumbuh dijaman yang serba instan, saya menemukan beberapa lulusan sarjana Gen Y yang melewati hidupnya tidak selalu instan. Ada yang dengan kreatif berternak lele dan dijual untuk mencukupi kebutuhan kuliah, ada yang mengikuti penelitian dosen demi mendapatkan uang tambahan untuk menyelesaikan skripsi, ada juga yang harus mengalahkan ambisi pribadi untuk berkarir di sebuah BUMN besar demi menjaga orang tua dan bekerja seadanya di kota dimana dia berada saat ini. 

Well, itu pilihan cara.
Itu baru fresh graduated dari Gen Y



Bagaimana dengan Gen X? Saya banyak bertemu dengan para Gen X yang bisa dibilang sukses dalam menciptakan karir mereka sendiri. Rata-rata benang merahnya adalah sama: selalu tidak merasa nyaman dengan posisi yang sekarang, menunjukkan kepada Pimpinan bahwa dia sudah tidak layak untuk posisi yang sekarang dan butuh perubahan, melalui pencapaian kinerja yang amazing!

Ada sudut-sudut lain yang saya pelajari saat saya melakukan wawancara dan menjadi guru saya dalam mendidik anak. Saya banyak bertanya tentang pola pendidikan yang diterapkan para orang tua yang sukses menyiapkan anaknya memiliki mental “Daya Juang” yang tinggi. 

Rata-rata orang tua tersebut tidak memanjakan anaknya. Fasilitas bukanlah sesuatu yang taken for granted atau suatu hadiah yang cuma-cuma. Mereka memberikan fasilitas dengan mengajarkan perjuangan pada anak-anaknya. Ini bukan masalah keras dalam mendidik anak atau bukan. Hanya saja tidak dimanja dan dilullaby. Selain itu, mereka yang berhasil, banyak yang dari keluarga yang solid. Orang tuanya berusaha melibatkan dan terlibat dalam hubungan dengan anak-anaknya. Bukan tidak memberi kebebasan atau mendominasi. Melibatkan anak-anaknya ketika membuat keputusan dan terlibat apabila anaknya membuat suatu pilihan. Contoh, memberikan kesempatan anaknya untuk kost, sehingga anaknya bisa mandiri. Dan menyiapkan rumah adalah suatu tempat yang dirindukan untuk pulang dimana orang tua siap mendengar. 

Sisi lain adalah tentang perencanaan dan pencapaian. Saya mempelajari bagaimana para kandidat yang sukses sangat paham akan dirinya. Dia paham akan menuju kearah mana, apa yang menjadi kekuatan dirinya, selanjutnya paham untuk membuat rencana dan melakukan tidakan nyata untuk mencapai tujuan hasil akhirnya. Contoh, seorang kandidat yang sudah yakin akan pilihannya untuk mendapatkan bea siswa dan pertukaran mahasiswa keluar negeri. Dia paham sekali apabila dia sukses mendapatkan kesempatan studi keluar negeri, itu merupakan jalan untuk mendapatkan karir lebih baik dalam langkah berikutnya.

SALUTE!

No comments:

Post a Comment