Friday, May 18, 2012

GREAT PLACE TO WORK



 Sumber Gambar: Flickr

(Memang ada ya The Real Great Place To Work?)

Saya menulis artikel ini pas hari jumat, mumpung sedang istirahat siang yang panjang dimana mayoritas Perusahaan sedang libur karena hari kamis kemarin tanggal merah. Are they (majority) on mass leave? I am not so sure, cause I did not have stats data he he he. But from visual analysis, I would say yess ( I mean from my friend FB status, BB, mostly they wrote: LOONG WEEK END).


Kalau pembaca bertanya, sedih ya pas semua orang libur, tetap ngantor.
Hmm, perasaan saya biasa aja kok. Kenapa hayo? Apa karena suami juga kerja, dan besok juga kerja?
Mungkin saya berbeda memaknainya. 

Buat saya, memaknai pekerjaan tidak bisa dari 1 sisi ke sisi lain. It should holistic view. Saya pernah lho luntang-lantung jomblow alias jobless. Jadi, arti holistik, saya akan melihat makna bekerja secara utuh, bukan hanya satu sisi. Utuh artinya ya dari banyak sudut laaaah...

Ok, saya akan mulai mengajak pembaca menjawab, apa sih makna bekerja, dilihat dari tujuan kita bekerja. Pasti jawabannya akan berbeda, dipengaruhi oleh sudut pandang, latar belakang pengalaman, perbedaan kebutuhan dan motivasi itu sendiri.

Ok, semakin membingungkan. Well, dalam penelitian yang saya lakukan di Tesis saya bercerita tentang Employee Engagement, salah satu alasan penelitian tersebut untuk memahami faktor-faktor apa yang bisa membuat orang terikat dengan perannya sehingga dapat memberikan kinerja yang maksimal. Penelitian juga didasarkan dari sebuah data alasan karyawan berhenti bekerja.

Untuk memudahkannya, saya akan membagi menjadi 5 faktor utama (tapi ini bukan yang saya lakukan dalam penelitian, ini berdasarkan pengamatan, dengan tujuan supaya pembaca tidak tergiring dalam suatu tulisan ilmiah, ntar beraaatt).

Faktor Organisasi 
Sumber Gambar: Flickr

Faktor-faktor terkait dengan bagaimana Perusahaan menjalankan strateginya dalam mencapai visi-misi yang diterjemahkan dalam kebijakan, peraturan dan budaya kerja yang ada. Misalnya, apakah karyawan tersebut merasa cocok dengan peraturan di Perusahaan tersebut, atau malah merasa peraturan tersebut terasa kaku dan tidak sejiwa dengan keinginan kebebasan berkreasi si Karyawan. Contoh lainnya misalnya sebuah Perusahaan yang memiliki komitmen pada Business Ethic. Atau Perusahaan yang respect pada Work Life Balance. Hal lain, misalnya Communication Systemnya, Sistem Kerja, Safety System dll.
Yang saya amati, terkadang pada kebijakan 1 karyawan tidak cocok, tapi pada hal lain, karyawan (tanpa menyadarinya) diuntungkan.

Faktor Kepemimpinan

Sumber Gambar: Flickr

Kepemimpinan bisa diartikan atasan langsung atau manajemen. Misalnya, karyawan merasa cocok dengan gaya kepemimpinan atasan langsung, tapi tidak cocok dengan model keputusan yang diambil oleh Tim Manajemen di Divisi tersebut. Bisa jadi toh? Atau sebaliknya, cocok dengan atasan tidak langsung, tapi dengan atasan langsung gak ketemu nih chemistrynya.... so complicated yaaaa...

Faktor Pekerjaan



Faktor ketiga ini biasanya berhubungan dengan pekerjaan dimana karyawan harus berperan. Beruntung bila kita bekerja dan menjalankan peran yang sesuai dengan passion kita. Bagaimana kasus yang tidak beruntung. Ok, saya akan memberi contoh pengalaman saya sendiri. Dulu, pada suatu masa dalam perjalanan karir saya, karena suatu alasan saya jadi seorang sekretaris. Well, peran itu tidak sesuai dengan kepribadian saya yang menginginkan suatu kebebasan untuk berkreasi. Bayangkan, kalau perintah atasan saya dilakukan dengan bebas berkreasi, waduh kacau kan hasilnya. Selain itu, keterbatasan otoritas membuat saya jenuh. Sehingga, pekerjaan itu tidak lagi memberikan makna mendalam bagi diri saya. Itu salah satu contoh. Contoh lainnya, sebuah Pekerjaan yang memberikan kesempatan bagi si pemegang peran untuk berkembang, tentunya akan sesuai dengan tipe karakter seseorang yang dinamis.  

Faktor Lingkungan


Faktor ini terkait dengan environment kerja. Misalnya bagaimana hubungan sosial yang tercipta dalam Organisasi tersebut. Bayangkan suatu lingkungan kerja, yang sesama rekan kerja memiliki hubungan sosial yang positif, saling mendukung dan saling melibatkan. Bayangkan sebaliknya, lingkungan kerja yang antar individu tidak kompak dan saling menjatuhkan. Fiuuuh, awalnya Office Politic deeh. 



Oya, ada yang tidak kalah serunya. Lingkungan juga bisa diasumsikan mengacu pada fisik bangunan misalnya: penyediaan tempat ibadah, kelayakan toilet, sampai dengan Kantin dan Pantry. Coba bayangkan pantry di office dengan segala kelengkapan Kopi, Gula, Creamer, dan Teh Dilmah tempat kita bisa berbagi cerita sebelum mengawali bekerja. Saya pernah tuh datang disuatu kantor, dimana bila saya bekerja ditaruh dipantrynya pun relaaaaa. Gimana nggak, lha wong ada toples berisi Coklat, ada Coffee Makernya, hmmm......*berasa kerja sambil ngafe gitchu*.

 Sumber Gambar: Flickr

Faktor Kompensasi & Benefit

Sumber Gambar: Flickr

Faktor yang tidak kalah pentingnya. Gaji, fasilitas dan tunjangan lainnya merupakan faktor motivasi yang kritikal bagi seorang karyawan. Without salary, life will quite impacted. Setiap Perusahaan tentunya memiliki standar dan kebijakan yang berbeda dalam Kompensasi dan Benefit, disesuaikan dengan kemampuan, untung-ruginya profil keuangan mereka.
Saya tidak mengurutkan faktor-faktor diatas, karena setiap individu memiliki kebutuhan yang akan mempengaruhi motivasi dan makna bekerja yang berbeda pula. 

Saya, saat ini, dengan saya 5 serta 10 tahun yang lalu memiliki prioritas faktor dengan urutan yang berbeda. Sekali lagi, tergantung pada cara pandang, pengalaman, kedewasaan dan kebutuhan saya sendiri. Setiap saat kita bisa berubah khan?

Kembali kedalam makna holistik atau makna secara keseluruhan... sekalipun tidak ada Perusahaan atau Pekerjaan yang secara utuh mampu memberikan kebutuhan dari 5 faktor diatas secara sempurna, selama sebagian besar terpenuhi, selama yang menjadi prioritas juga tercukupi, maka faktor yang tidak ada akan menjadi ‘pertukaran’ atas sesuatu yang lebih  pada faktor lainnya. 

Cara lain memandang secara utuh adalah, melihat kekurangan sebagai sesuatu yang bukan menjadi prioritas lagi, atau mungkin menjadi faktor yang tertunda.
Pertanyaan penutup, Great Place To Work ada ga sih? Selalu relatif bukan memaknainya? Dan disetiap kita pindah Perusahaan, pertukaran plus-minus selalu ada khan....

Tetap Semangat Berkarya!


No comments:

Post a Comment