Friday, April 29, 2011

PENTINGNYA FOKUS PADA PEOPLE TERHADAP SETIAP PERUBAHAN ORGANISASI



Seorang teman datang kepada saya sambil berkata, “ Waaah, kok aturannya diganti lagi seeeh...apa gak dipikirkan efeknya?”

Saya pun tersenyum mendengarkannya, “Aha, pasti ada yang salah disini”.

(Sekedar sharing, dalam melakukan Perubahan Organisasi, ada 3 unsur penting yang harus disiapkan dengan matang: PEOPLE, PROCESS, TOOL).



Dalam kasus ini, saya melihat Organisasi telah menyiapkan Process dan (mungkin) Toolnya. Tapi saya perlu mendalami apakah Organisasi tersebut telah menyiapkan dengan matang Peoplenya.

Saya pun mencoba mengamati perubahan Aturan yang dimaksud oleh rekan saya, ternyata, sebenarnya ada yang salah dalam penyampaian perubahan itu sendiri yakni Orang yang melakukan – menjalankan-dan merasakan perubahan tersebut tidak paham: WHAT IS IT FOR ME? – Peoples yang terlibat belum atau tidak paham apa dampak dan sisi positif perubahan tersebut bagi masing – masing individu.

Simple bukan?



Dalam setiap perubahan, apapun itu, kadang perubahan bisa diterima apabila si penerima Perubahan paham: WHAT IS IT FOR ME!

Ambillah contoh pendidikan. Ketika saya SD, SMP dan SMA, saya termasuk siswa yang rata-rata karena saya sekedar mengikuti kegiatan pendidikan...bukan karena saya paham, WHAT IS IT FOR ME.

Ketika masuk S1, mulailah saya sadar apa pentingnya Pendidikan, jadi saya mulai ‘agak’ serius.
Sedangkan saat ini ketika memutuskan kembali mengambil kegiatan pendidikan S2, saya menjadi seorang yang ‘serius’ karena saya paham “WHAT IS IT FOR ME”. Apasih pentingnya lanjut S2 bagi saya? Saya paham, sehingga saya memilih untuk serius menjalankannya.

Kembali ke Perubahan Organisasi.

Ambil contoh ketika Perusahaan membeli Tools Perubahan bernama SAP. Maka system pun dibuat...

Policy di buat oleh sekumpulan orang-orang pinter bernama Manajemen.

Dan ketika ‘Go Live’ pun banyak mendapatkan penolakan. Mengapa?

Sebagian orang pintar bilang, ah wajar....ini namanya dinamikan Perubahan..ntar juga biasa kok...
Eits...justru saya akan menanyakan kembali, sebenarnya mengapa orang tidak mau berubah. Apakah karena terlalu dipaksakan, apakah tidak mengakomodir kepentingan beberapa pihak yang menolak perubahan, atau perubahan mengiritasi buat mereka?

Simple, ketika Manajemen ingin mengadakan Perubahan atau me ‘launch’ sebuah Produk baru untuk perubahan Organisasi, maka tantangannya adalah: Buat Para Pelaku Perubahan Paham Dulu: What is it for me’ nya (apa untungnya perubahan tersebut bagi yang bersangkutan), dan dapat dipastikan ..tiket akan terbeli. Paling tidak ini akan membantu meminimalisir penolakan karena terjadinya IRITASI PERUBAHAN.

Setelah paham akan “What is it for me” maka selanjutnya bisa dicoach mengenai apa dampak apabila Perubahan tidak dilakukan.

Selamat Berubah



(Penulis: Mahasiswi Program Magister Perubahan & Pengembangan Organisasi, UNAIR)
Note: gambar diambil dari hasil googling

1 comment:

  1. Bagus banget jeng..perubahan tanpa menyentuh aspek manusia/people-nya maka perubahan tidak akan pernah sampai pada tujuan. istilah dalam scorecarding adalah personal (note : bukan individual)scorecard harus dimiliki dan menjadi kebutuhan untuk memilikinya.

    Sebagai masukan, awareness pada perubahan tidak boleh berhenti pada manfaat bagi individu karyawan tsb saja ("me"), tetapi sebagai bagian dari organisasi harus sampai pada tahanpan manfaat untuk perusahaan ("us").

    Bila awareness sudah dibangun, maka perlu dibangun tahapan asosiasi yang "gong"nya adalah terwujudnya keterpaduan entity antara perusahaan dan karyawan. Perusahan memandang alangkah pentingnya aspek people dan sebaliknya karyawan memandang perusahaan sebagai sawah ladang dan tempat mereka beribadah.

    Good article mbakyu..

    ReplyDelete