Monday, April 25, 2011

KULINER @SEMARANG



Pertengahan February 2011, saya memiliki kesempatan untuk melakukan Recruitment on Campus di Universitas Diponegoro, Semarang. 

Itu adalah kesempatan pertama saya untuk jalan-jalan menikmati sore hingga malam di Kota Semarang. 





Saya menginap di Hotel Ibis, Semarang yang letaknya berdekatan dengan pusat Kota, tepatnya Simpang Lima. Harga yang saya dapatkan pada saat itu cukup terjangkau, IDR 360.000/nett tanpa Breakfast.
Kenapa tanpa breakfast? Banyak teman saya yang menyarankan, untuk menikmati Kuliner di Simpang Lima. Okay, saya pikir teman-teman saya benar. Saya harus menikmati setiap detik waktu jalan-jalan saya di kota lain, sambil menikmati masakan khas kota tersebut. 





Sore hari, saya memulai petualangan saya berjalan di seputaran Simpang Lima. Disana saya berkunjung di Mall Ciputra, Semarang. Dan saya berkesempatan mampir ke Istana Mie & Es.
Karena saya bukan tipe pencoba-coba makanan, saya memilih makanan yang sudah saya kenal, Pangsit Mie Istimewa. Sayangnya saya tidak mengambil fotonya karena saya terlalu lelah. 

Gambaran Pangsit Mie Khas Istana Mie, mie-nya benar-benar berbeda, lembut, dengan kaldu yang ringan. Taburan ayam dan sayurannya menghiasi Mangkok Mie. Di mangkok yang terpisah,Gank Pangsit Mie menyertai, mulai siomay, baso, Pangsit Kukus, Pangsit Goreng dan Tahu Goreng. Semuanya berukuran gendut..YUMMY...

Lagi-lagi saya menyesal karena saya tidak berani mencoba-coba. Ternyata makana pesanan teman-teman saya tidak kalah enaknya. Cumi-cumi Rica-Rica. Hmmmm... pedasnya nendang! I swear, itu rica-rica terenak yang pernah saya makan. 

Paginya, saya dan rekan saya menuju ke arah Simpang Lima (lagi) untuk menikmati Kuliner untuk sarapan. Kali ini saya di kenalkan dengan nasi Ayam khas semarang, tepatnya sebuah lesehan Kaki Lima di pojok simpang lima. Penjualnya mbok-mbok tua berjarik. Benar-benar tradisional. Nasi ayam berisi Jangan Bung, Suwiran Ayam, Telor Bacem, di siram Kani (santan) kental.
Dijual terpisah beraneka ragam sate, mulai sate jerohan, sate telur muda sampai sate telur puyuh. 

Harganya murah meriah. Seporsi (untuk wanita) IDR 7.500, Sate 1 tusuk gendut IDR 3.000 dan Air Mineral IDR 500. Total kami hanya menghabiskan IDR 11.000 untuk sarapan spesial Nasi Ayam Khas Semarang. 



Siangnya, sebelum kami kembali ke Surabaya, saya sempatkan mampir di Istana Mie & Es di Mall Ciputra Semarang, untuk membayar rasa penasaran saya dengan masakan Rica-rica yang pedas menendang. Kali ini saya memesan Udang Rica-rica plus bungkus untuk oleh-oleh yang di rumah. Dan,’cekrek’ saya pun tidak menyia-nyiakan untuk memotonya.



Saya jadi kebayang, buat berlibur di Semarang, untuk menghabiskan waktu wisata kuliner di Semarang. 

Semoga tulisan ini jadi referensi untuk teman-teman yang akan berwisata di Semarang. Silahkan mampir ke Simpang Lima, dan berpetualang dengan Kuliner di sana.

2 comments:

  1. Lain kali kalo ke Semarang lagi, coba deh cicipin kuliner lain yang ada di simpang lima seperti pecel Yu Sri, Nasi Ayam, dll. Semuanya ga kalah enaknya lho.

    ReplyDelete
  2. Kabar bagus nih untuk pemilik usaha kuliner di semarang, kini ada take away box bernama Greenpack yang dapat menunjang kebutuhan usaha kuliner anda. Greenpack terbuat dari bahan foodgrade yang berarti aman untuk makanan. Selain itu Greenpack sesuai namanya dibuat dengan tujuan agar dapat didaur ulang sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Selengkapnya coba cek di sini http://www.greenpack.co.id/

    ReplyDelete