Friday, October 15, 2010

Wanita dan segala pilihannya .....


Tulisan ini bukan pencetus : Married is starting to go to hell...no.....
Sebaliknya, tulisan ini terinspirasi dari kondisi-kondisi nyata wanita dengan segala resiko atau konsekuensi atas sebuah pilihan setelah menikah.

Ide awalnya ketika saya chat dengan seorang teman lama via FB, dan sedikit tertegun dengan pendapat yang dilontarkannya. 

Saat itu, karena sudah lama sekali saya tidak bertemu dengan teman-teman sekolah, saya menanyakan khabar beberapa teman yang saya asumsikan rekan bicara saya ini akan memberikan ‘clue’ khabar terakhirnya.Ketika saya menanyakan beberapa nama teman wanita (kebetulan rekan bicara saya juga wanita dan saya juga wanita :D), jawabannya kurang lebih seperti ini:

“Hm....mungkin Si A, Si B dan Si C sekarang profesinya ‘Cuma’ ibu rumah tangga.....”
Sejenak saya terkejut dan tidak bisa berkomentar apa-apa..
Kenapa? Karena skema di kepala saya jelas berbeda. 

11 Tahun lebih saya berkarir, dan saat ini saya tidak sedang bekerja.....(what a different between me and si A, si B and si C..I am just a housewife (and blogger he he he).



Ok, saat itu saya tidak berkomentar apapun tentang statement rekan yang satu ini. Sekali lagi, skema pemikiran kita mungkin beda di pengaruhi oleh banyak faktor. Yang bisa saya lakukan saat itu menetralisir perbincangan dengan mengganti topik pembicaraan yang lebih ringan. 

Tapi jelas disini saya sedang mengolah sebuah stereotipe mengenai wanita yang di judge oleh kaumnnya sendiri, bahwa: WANITA BEKERJA MEMILIKI KEDUDUKAN LEBIH TINGGI DI BANDINGKAN WANITA RUMAH TANGGA.

Sekali lagi, ini stereotipe
(Stereotipe adalah pandangan umum yang ada di masyarakat/ kelompok)

Woke, woke...saya tidak akan menyalahkan pandangan apapun, karena pada dasarnya pandangan kami memang beda.

Sekarang mari melihat dunia wanita memilih jalur karier, dimana saya telah menjalaninya selama 11 tahun terakhir...




K-A-R-I-R

Sesuatu yang berhubungan dengan status sosial, nilai materi tertentu, pengakuan, dan kesempatan aktualisasi diri. Jumlah wanita memilih jalur karier telah meningkat dibanding jaman ibu saya ...(sayang saya tidak mau ambil data statistik)

Hm...coba kalau kata wanita karier tersebut, apa yang ada di benak kita:
....wanita aktif....
....wanita dengan penampilan modis....
....wanita cerdas...
....wanita multi tasking...
....wanita dengan kesibukan....
....wanita dengan dunia lebih dari satu....

Okay, sekarang, apa sih motif wanita karier?
....tuntutan keluarga (ya dunk...susah2 bokap kuliahin, masak balik ke dapur juga)
....sosial (gue butuh pengakuan nih dari lingkungan sosial..sohib2 gw semuanya kerja kantoran, masak gw nggak sih?)
....keinginan pribadi (wah, dari dulu saya liat wanita g punya penghasilan sendiri tuh g berdaya..mesti bergantung ama pasangan. ..)
....keinginan pasangan (si pasangannya bilang gini: honey, mending kamu tetep kerja deh..kalo misal tiba2 saya kenapa2..khan perekonomian kita gak terlalu jatuh..)
Lain-lain...dan lain-lain...

Lantas, apa untungnya jadi wanita karir:
...lebih dianggap ‘berkelas’
...lebih mandiri...
...lebih bisa menentukan pendapatnya sendiri
...bisa menyalurkan hobby belanja tanpa perasaan bersalah (ha ha ha)
...dari sisi pikiran dan pengetahuan tentunya lebih terasah karena stimulan2 tuntutan pekerjaan, date line, performa kerja dll.

Nah, itu poin plus-plusnya, gak imbang dunk kalo gak realistis liat poin minus-minusnya:

Kehilangan banyak waktu
Wah ini sih namanya resiko..no pain no gain, no gain without pain..kalo orang jawa bilang “Jer basuki mawa beya’ artinya kalo mau sukses..ya..mesti ada usaha dan pengorbanan dunk..termasuk kehilangan waktu

Keluarga Komplain
Ujung-ujungnya masalah waktu dan perhatian. Bisa jadi ‘sang’ pasangan mulai kesel soalnya gak bisa sekedar nyiapin masakan, semuanya jadi made in dayang di rumah. Si Ibu juga kesel, lho nduk..kok gak pernah kerumah sih... Atau sang mertua yang protes haluuus “Nak, mbok ya suaminya itu agak di perhatikan. Masak bikin kopi sendiri. Dulu ibumu ini bla bla bla bla...”
Terakhir, buah hati kita, “ Ibuk, kok gak nemenin adek ambil raport sih. Mamanya Dika nemenin, Mamanya Andin juga...Kapan dong bisa nenemin akyu...”

Sosial
He he he..trust me, saya banyak mengalaminya dan hanya bisa di balas dengan senyum tanpa jawaban apapun
....walah bu, kok gak pernah ngumpul2 arisan. Sibuk cari duit ya.....
....hoalah buk, anaknya kemlayu ama sing ngemong ya. Gak deket ama ibunya ya. Kasihan ya.....
(itu juga kita nggak tahu, dibelakang kita ada stempel apa aja yang melekat)

Dikantor
Belon lagi kesulitan di kantor, pas anak sakit...kebayang khawatirnya sang ibuk..apakah anakku udah minum obat, apakah mau makan. Walah, bos kok kasih banyak kerjaan sih.
Sudah sedemikian ‘struggle’nya sang ibu menyelesaikan pekerjaan kantor, pulang mendapat perlakuan reject dari sang anak, dan pelakuan ketus dari pasangan karena dianggap kurang care dengan keluarga (hallow..dimana komitmen awal atas ijin bekerja)
Besok paginya, sang boss marah-marah karena pekerjaan yang kita kirimkan ada kesalahan dikarenakan kita kurang teliti (wah, maap bos, kemarin gak fokus neh)

TERNYATA SULIT YA WANITA MEMILIH JALUR KARIER.... :D (eits..tepatnya susah jadi wanita karena pilihan apapun jadi serba salah)



Mungkin karena stereotipe di masyarakat kita, wanita adalah kelas dua yang harus berjalan di belakang pria. Sang pria (baca pasangan) bisa saja menerima, bagaimana dengan keluarga kita, keluarga pasangan, anak kita, dan sosial kita?
Kayaknya wanita gak punya hak yang sama untuk sukses sebagaimana hak pria di bidang karir
KALO WANITA TIDAK BERKARIER
Hm,  balik lagi stereotipe di masyarakat kita yang menganggap wanita berkarier akan terlihat punya nilai status lebih dari pada wanita berstatus ibu rumah tangga. Wanita, dirumah dianggap punya pemikiran lebih terbatas, karena dunianya terbatas. 

(oya, sedikit saya tambahkan, kadang anggapan2 ini terlontar dari kaum sesama wanita :D)

Bagi saya, tidak ada yang salah atas pilihan menjadi apapun. 
Setiap pilihan akan mengandung konsekuensi.

Tergantung kita sebagai wanita bersedia atas konsekuensi-konsekuensinya.
Apapun stereotipe dari masyarakat, sebaiknya jangan di tentang atau di perdebatkan :D, sebaliknya, kita makin mampu tersenyum dan bangga atas pilihan kita. 

Selamat berkarya,
Banggalah atas apapun itu status kita (wanita berkarier, wanita rumah tangga, wanita dengan bisnis sendiri di rumah, wanita memilih untuk menempuh pendidikan lagi atau belajar jadi penulis blogger seperti saya :D)

P.S. Sumber gambar di download dari google- image







8 comments:

  1. butul..butul..butul... semua pilihan punya konsekuensi, bahkan untuk yang tidak memilih sekalipun.. Tulisan yang sangat menginspirasi, membantu kita, para wanita dan partnernya untuk bisa mengenal, mengerti , dan memahami akan sebuah pilihan.. selalu ditunggu tulisan berikutnya .. :)

    ReplyDelete
  2. Yuuup...yang penting kita berani memilih...
    Konsekuensinya kadang pahit..tapi yakinlah akan lebih banyak 'manisnya'....

    ReplyDelete
  3. Menjadi pahlawan yang berjihad di rumah tangga jauh lebih berharga, Islam-pun memberi kedudukan kehormatan tertinggi pada seorang IBU, bukan pada seorang wanita karir. banyak pendapat menggunakan tolok ukur-nya masing-masing, tetapi alangkah baiknya bila menjadikan Al Qur'an sebagai tolok ukur yang paling benar

    ReplyDelete
  4. Setuju....kita kembalikan semuanya ke skema pikiran masing2 Individu...
    Apapun tolak ukurnya, apapun keyakinannya, yang terpenting siap atas pilihan tersebut...

    ReplyDelete
  5. hai mbak.. ikutan komen ya.. kebetulan aku udah pernah menjalani keduanya. Jadi Working Mum, dan Full Time Mum. Kalau mau dibandingkan, FTM itu jauh lebih berat kerjaannya dibanding WM loh.. sayang masyarakat kita termasuk keluarga dekat masih menganggap bahwa jadi WM itu lebih hebat, lebih jago dan lebih menghasilkan.

    Memang semua pilihan terpulang pada pribadi dan keluarganya. Yang cukup penting adalah mengubah persepsi "cuma" FTM itu lho. FTM juga harus update dengan perkembangan dunia. FTM harus cerdas, kreatif, modis dan wangi. FTM juga bisa mandiri secara finansial dengan maraknya berbagai jenis usaha yang bisa digawangi di rumah.

    Bisa nggak? Ya bisa buanget tohh!!! :)

    ReplyDelete
  6. Horaaaay...akhirnya mbak Endang comment....
    Setuju! FTM beraat, sayangnya stereotipe yang ada FTM jadi second class...

    Sekarang saya juga FTM...:D

    Nah, tinggal kita membuktikan, apapun statusnya, apakah FTM atau WM, wanita harus tetap cantik dan smart, battery kepala harus tetep di charge...

    Makasih ya commentnya...

    ReplyDelete
  7. Hai Phienz, mau share dikit ya.
    Sapa bilang FTM second class? Ada mama temennya anakku, waktu aku masih FTM lihat aku kayak gimana gitu...eh waktu dia curhat soal kerjaan masalah komputer trus aku kasih solusi eh aku sekarang malah jadi kunsultan dia he..he..he..
    Aku dulu juga FTM, berhubung ada proyek dari temen, akhirnya jadi WM. Awalnya sedih campur aduk harus ninggalin anak ke-2ku yang waktu itu masih 1 th. Ngga bisa nemenin si kakak belajar. Sekarang aku lagi sibuk juga bisnis online. Doain sukses ya bisnis online-ku biar bisa jadi FTM lagi :D

    ReplyDelete
  8. Semoga bisa jadi FTM sambil ngurusin bisnis sendiri, canggih tuh. Chuuumangaaadh ya....

    ReplyDelete