Tuesday, October 19, 2010

MAXIMUS DECIMUS MERIDIUS (Gladiator : 2000)






Gladiator is the one of my favorite film. Sepanjang kuliah Resonant Leadership sabtu kemarin, pikiran saya melayang-layang membayangkan figur Maximus.

Maximus Decimus Meridius, nama dari Jendral Besar di Roma, masa pemerintahan Kaisar Marcus Aurelius. Maximus adalah tokoh sentral di Film Gladiator (2000) diperankan oleh Russell Crowe. Eits, saya tidak akan membahas mengenai si pemeran Film. 

Sedikit sinopsis ‘bebas’ film Gladiator: 

Maximus adalah Jendral besar di Roma, yang selalu memenangkan pertempuran, otomatis meluaskan negara jajahan Roma. (Kalau diibaratkan organisasi, ya...Maximus adalah Direktur /Manager yang berprestasi dengan pencapaian kinerja yang gemilang :D)



Singkat kata, layaknya figur besar yang berhasil lainnya, Maximus pun tidak lepas dari figur lain yang berseberangan, yang merasa posisinya terancam atas kepopuleran Jendral Maximus. Dalam film ini, figur oposan dari Maximus adalah putra mahkota kaisar, Commodus Patricide. (Lagi2 di organisasi, figur Commodus pasti bisa kita jumpai :D)



Commodus Patricide terancam atas kepopuleran dan kebesaran nama Maximus, sehingga berbagai cara dia lakukan untuk menyingkirkan Jendral Maximus (he he he...di organisasi, pasti ada commodus2 lain yang berusaha menghalalkan berbagai cara untuk melancarkan kepentingan pribadi)

Usaha menyingkirkan Jendral Maximus pun dilakukan. Mulai di tahan, rencana akan dibunuh (akhirnya Maximus bisa melarikan diri), sampai anak istrinya yang di desa pun di bunuh. Dalam sesaat, Jendral Maximus kehilangan semua yang ia miliki (jabatan, anak, istri). Dalam kondisi tidak memiliki apapun, Maximus di temukan oleh pedagang budak manusia. 

....Bisa bayangin, Jendral besar, dengan segala kehormatan yang dulunya di miliki) sekarang telah berubah menjadi budak yang siap dijual kepada siapa saja..... (Ini bagian cerita yang paling saya suka..)

Maximus, telah kehilangan semuanya, harapan, cita –cita, impian dan tujuan hidupnya. Dia hidup di perlakukan sebagai budak, dengan tangan-kaki di ikat. 

Akhirnya perjalan sampai pada juragan Gladiator, disanalah Maximus dan budak-budak lainnya di jual. Maximus pun menghadapi medan perkelahian melawan gladiator-gladiator dari club lain.
(Kalo bicara Competency, ya jelas Maximus udah punya hard skill berkelahi...mantan Jendral gitu lho)

Karena Maximus gape berkelahi di lapangan Gladiator, prestasi-prestasi kemenangan pun di raihnya. Otomatis, popularitasnya meningkat (ya..bisa disejajarkan sama popularitas Muhamad Ali, he he he).
Tidak hanya itu, Maximus dijadikan Informal Leader oleh teman-teman sesama Gladiator se-clubnya, karena kemampuannya mengajarkan (training), mendegarkan curhat teman2nya dan jadi motivator pada saat orang lain merasa down. 

Dan akhirnya, kepopuleran Maximus kembali sampai di telinga musuh bebuyutan Maximus, Kaisar Commodus (oya, dia udah naik pangkat jadi Kaisar...)

Merasa kepopulerannya kembali terusik dan terancam, maka berbagai cara Commodus lakukan untuk menjatuhkan Maximus. Mulai di beri lawan berat, di tambah macan buas dan lapar. Semuanya berhasil di kalahkan oleh Maximus, sang Juara. 



Commodus menantang duel Maximus, namun dia bermain curang sebelum pertandingan Gladiator. Dada Maximus di tusuk oleh Commodus sebelum pertandingan, sebelum baju kebesaran Gladiator, di kenakan. Akhir cerita, meski sudah terluka parah, Maximus berhasil mengalahkan Kaisar Commodus di Arena pertarungan Gladiator, hingga sang Kaisar tewas. Tak lama kemudian, Maximus pun meninggal. Ending dari film di tutup dengan pemberian penghormatan oleh seluruh warga roma yang menyaksikan Pertandingan, tapi bukan pada jasad Kaisar, melainkan ke Jasad Maximus, sang Jendral besar, Gladiator, sekaligus Pemimpin inspirational. 

Wah...saya jadi membuat ringkasan film Gladiator.
Sebenarnya saya ingin mengkaji profil Tokoh Maximus dari 2 sudut Pandang profesi saya, yakni: Kepemimpinan dan Bakat (Talent)

KEPEMIMPINAN ALA MAXIMUS

Kalau dalam kajian Theory Leadership, Maximus ini adalah Pemimpin dan bukan Bos (Leader and Not Manager!)
Sekalipun secara jabatan resmi dia bergelar sebagai Jendral Besar, Maximus memiliki sikap-sikap kepemimpinan antara lain: 

PUNYA PENGIKUT .... yang tidak sekedar ANAK BUAH!
PUNYA PENGARUH .... yang tidak sekedar KEWENANGAN!
DI SEGANI...tidak sekedar DITAKUTI!
MENGINSPIRASI..DAN PUNYA KETERIKATAN EMOSI....

Selain semua itu, Maximus memiliki modal kekuasaan yang melekat dalam dirinya yaitu: Legitimate Power (Kekuasaan karena kehebatan yang di miliki), Expertise Power (di percaya karena kemampuannya), dan Resources Power (Kekuasaan kareba sumberdaya yang dia miliki) misalnya kemampuan menjalin hubungan personal dll, terakhir Personal Power (karismatik, punya kualitas pribadi yang positive)

TALENT ALA MAXIMUS

Bagi saya, Maximus memiliki ‘bakat alam yang luar biasa hebatnya’ dan sangat melekat kuat dalam pribadinya. Sekalipun lawannya telah menghilangkan apa saja yang di miliki Maximus, termasuk menghancurkan secara psikologis, Maximus tidak bisa di tundukkan. Di organisasi, kita juga punya Talent-talent yang siap kita kembangkan sehingga memberikan kontribusi yang maximal. Mereka punya integritas, dan kebesaran jiwa.

Nah pertanyaan saya berikutnya adalah, bagaimana cara kita bisa menularkan Talent-talent positive pada anak kita? Sehingga memiliki mental yang baik, kekuatan, kemandirian, kejujuran pada anak-anak kita? 

Dalam tulisan ini saya tidak mengajak kita merefleksikan apakah pemimpin-pemimpin disekitar kita sudah memiliki beberapa sifat dan perilaku seperti Maximus. Saya tidak mengajak untuk menuntut kepada orang lain. Saya lebih mengajak diri kita lah yang mulai berbenah, melakukan perubahan positive dan menjadi Maximus-maximus kecil, yang selalu tegas, punya prinsip, kuat dalam terpaan apapun, dan mampu menginspirasi orang lain.

Selamat melakukan perubahan kecil :D








2 comments: