Thursday, October 28, 2010

THE GREAT LEADERS



Sebelum mulai membaca artikel ini, saya ingin meminta pembaca menjawab tiga pertanyaan saya: 

      Bayangkan wajah Pimpinan anda saat ini, apakah dia adalah “Pemimpin yang hebat” buat anda 

     Bayangkan wajah Pimpinan yang anda sangat kagumi, yang apabila di beri kesempatan tetap atau bisa bekerja kembali, anda bersedia dengan sepenuh hati..., pertanyaannya: KENAPA?
    
     Sekarang (tanpa bermaksud membuat ‘bad-mood’) bayangkan wajah pimpinan yang bikin keseeeel, sehingga tidak ingin tetap atau bekerja lagi dengannya? Kembali saya mengulang pertanyaan, KENAPA?

Pertanyaan nomer satu, kalau misal anda masih bekerja dengannya, coba renungkan, apakah kita juga Follower Ideal baginya :D

Kalau misal memang bener-bener tidak bisa di persatukan sekalipun telah melakukan berbagai cara dan usaha...(misal karena karakter, prinsip, cara pandang tidak bisa di persatukan), mungkin ada baiknya berhenti untuk sejenak melihat kembali alasan kita bertahan dengannya. Kalau buat saya sih mudah, kalau misal benar-benar Pimpinan kita bukan Pimpinan Hebat... ada baiknya kita memilih jalan lain (atau dengan kata lain pisahan). Tapi kalau kita misalnya masih bisa untuk bertahan, berkompromi ya silahkan. Hidup adalah pilihan.



Pertanyaan nomer dua, pasti membuat kita bisa tersenyum. Ada banyak jawaban ‘kenapa’ kita mau dengan kesuka relaan masih atau bersama lagi untuk bekerjasama, menurut apa pernyataan, permintaan dan kata bijaknya dengan keikhlasan. 

......dia karismatik....
......dia tidak sekedar seorang atasan, tapi kami memiliki kedekatan emosional....
......dia mampu menjaga emosinya.....
......dia pintar.....
......dia  mampu memotivasi kita....
......dia bisa diandalkan.....dsb...dsb...dsb.....
Pertanyaan ke tiga, mungkin membuat kita merasa tidak nyaman karena kita harus mengingat hal-hal yaang kurang menyenangkan. Anyway, saya juga pernah mendapat pertanyaan yang sama dari Dekan Fakultas Psikologi Unair, Bpk. Seger, dan berikut jawaban dari rekan-rekan sekelas (termasuk saya):

......hmm... setiap datang, dia pasti marah-marah....
......gak pernah menghargai usaha kita....
......mbuencekno puol....gak ada energi positif deh....
......masa mengakui hasil kerja kita sih :x ......masa dia yang ‘dapet’ nama, khan kita yang kerja keras
......gak punya integritas.....dsb, dsb, dsb....

Dear my friend, itu jelas bukan Leader...dia formalitas adalah atasan (boss, manager, head atau apapun lah namanya). 

Sekali lagi: DIA BUKAN LEADER......

Jadi apa syarat seorang Laeder.
Banya aliran atau theory mengenai leader. Simple saja yang saya pelajari dari kelas MPPO, Leader punya 4 hal:
  
           Mampu menciptakan dan menjaga hubungan Emosional
Apa maksudnya? Seorang Leader yang memiliki kematangan emosi, dia akan mampu mengontrol emosi , dirinya dan emosi pengikutnya. Wow....
Leader tidak perlu marah meledak-ledak (kalau marah meledak-ledak, dia bukan Leader)
Pendek kata dia punya kemampuan Emotional Intelligent (mengenali dan mengendalikan emosi diri, mengerti dan membantu pengendalian emosi orang lain, dan menjaga hubungan baik dengan orang lain).
Ada pertanyaan berikutnya, berarti bertentangan dengan paradigma dimana seorang Leader harus bisa menjaga jarak dengan pengikutnya. Supaya tetap profesional.

Ternyata ada hukum alam yang berlaku dimana hubungan informal bisa membantu dan bahkan sangat berpengaruh pada hubungan formal.

Saya punya satu manager yang buat saya sampai saat ini great leader. Beliau sangat kharismatik. Beliau jarang bicara dan susah ditebak, tapi saya tahu, beliau sangat perhatian pada anak buahnya. Suatu hari saya sakit dan perlu opname. Saya pikir, dengan sms di hari pertama saja cukup darinya. Di hari kedua yang kebetulan hari Libur, saya tidak menyangka beliau datang dengan Keluarga (Istri dan anak-anaknya). Saya merasa saat itu bukan pimpinan yang datang, melainkan seperti seorang kerabat yang datang menjenguk.
Sekali lagi saya akan maklum apabila beliau tidak menjenguk saya, mengingat itu hari libur dan rumahnya cukup jauh.
Hal lain yang saya masih sangat menaruh rasa hormat sebesar-besarnya adalah, beliau tempat saya bertanya meski saya bukan lagi anak buahnya, beliau tetap menjenguk saat Kinanti baru saja lahir, beliau pun yang memberikan saya surat rekomendasi saat saya mendaftarkan Pasca Sarjana di UNAIR.

(I am grateful for Bpk. Achmad Zubaidi, for his maturity and teach me a lot about how to practices Emotional Intelligent).

  
           Punya Pengaruh
Pengaruh dalam hal ini bukan hanya kewenangan atau kekuasaan secara formalitas. Punya pengaruh adalah diluar kewenangan pun, anda bersedia melakukan apa saja dengan ikhlas. Pengaruh bisa ada dikarenakan beberapa faktor, misalnya anda yakin pimpinan tersebut punya kemampuan, bisa diandalkan, punya visi. Pendek kata: H.O.P.E.
Bayangin kalo pimpinan tidak kuat, tidak jelas mau dibawa kemana arah tujuannya.

Kembali saya akan bercerita My ‘other’ Great Leader
Ini pimpinan yang lain. Saya beruntung mendapatkan pimpinan seperti beliau. Beliau sangat cerdas. Strateginya sangat bagus. Dalam kondisi tantangan seberat apapun, beliau mampu meyakinkan kami bahwa semua akan membaik, dan kami mampu menghadapi apapun.
Beliau juga mampu menguasai semua bidang, bahkan Human Resources yang bukan Background beliau. Beliau mampu membantu kami mengerti, hal apa yang harus kita kuasai untuk tantangan berikutnya. Beliau memiliki energi positive yang luar biasa, dan mampu menularkan virus-virus semangatnya kepada kami.

(I am thankful for Mr. Vasudeva Rao, the Great Leader who always brings us spirit and hope, even in difficult situation)


Sekedar sharing quotes dari Pak Vasu:

Life is a series of compromises, no matter what ever is the magnitude of problems we face or what ever tough situations we are in to or what ever type of people we interact with. Sense of compromise & patience binds people together.



Menginspirasi
Untuk Pimpinan seperti ini biasanya sifat dan perilaku merupakan role model bagi pengikutnya. Pimpinan seperti ini memiliki integritas yang tidak di ragukan lagi. Apapun yang dia lakukan, semata-mata berdasarkan suatu kebenaran. Selain itu, pimpinan yang menginspirasi, tidak memiliki kepentingan pribadi, sangat obyektif dan melayani.

Sekali lagi saya beruntung karena memiliki pimpinan yang inspirational. Beliau sangat humble (rendah hati) dan punya tingkat kejujuran yang tinggi.
Beliau selalu memberikan banyak pandangan lain (tanpa saya minta) mengenai jalan keluar suatu masalah, ide, perbaikan dan pengembangan lainnya.
Beliau menyarankan saya untuk ambil bea siswa keluar negeri, beliau memberikan masukan
Mengenai buku apa yang perlu di baca untuk pengembangan diri. Bahkan, pada saat dia tahu saya jadi blogger, beliau juga memberi masukan beberapa blog bagus untuk di baca.
Beliau juga salah satu yang membantu rekomendasi saya pada saat mendaftarkan Program Pasca Sarjana.

(Last, my gratitude for Mr. Felix Abednego, the Great Leader who keep spread us with his humality, integrity and wisdom)


 Punya pengikut
Pengikut tentu saja bukan anak buah. Anak buah biasanya dalam organisasi formal, pengikut adalah karena kesukarelaan, kepercayaan, dan keterikatan.
Saya bisa katakan, ketiga contoh Pimpinan saya diatas memiliki pengikut, bahkan meski kami sudah tidak memiliki ikatan secara formal struktural. Dan saya yakin, pembaca yang mengenal profil-profil nama diatas akan setuju dengan pendapat saya.

Adakalanya, sebagai seorang pimpinan dihadapkan kondisi yang sangat sulit misalnya Krisis Bisnis, Target Bisnis atau Persaingan Bisnis. Dalam hal ini, seorang pimpinan yang hebat tidak akan sekedar mengejar menjadi Effective Leader, melainkan akan menjadi Resonant Leader.

Sedikit terjemahan bebas mengenai Effective Leader dan Resonant Leader.
Effective Leader akan lebih berfokus pada pencapaian atas tuntutan bisnis, tidak jarang akan banyak mengakibatkan korban.

Sedangkan seorang Resonant Leader, akan selalu mempertimbangkan sisi humanisme (kemanusiaan), mempertimbangkan pendekatan emosional, dan melihat hubungan baik antar manusia, bukan sekedar pengejaran atas pencapaian sebuah target. Meskipun pada akhirnya akan ada korban, pastinya telah di pertimbangkan dengan matang dan telah di minimalisir resiko atau korban yang diakibatkan pada suatu keputusan.

Selanjutnya, saya akan bertanya, bisakah kita menjadi The Next Great Leader? Leader tidak memerlukan posisi formal di sebuah Perusahaan.


The Next Great Leader membutuhkan perubahan dalam diri kita
.....Perubahan Kematangan Emosi.....
.....Kemampuan memimpin diri kita sendiri....
.....dan perubahan-perubahan positive lainnya....
....serta keinginan untuk bisa memberikan inspirasi bagi yang lain....


Semoga bermanfaat dan selamat mencoba...

Penulis sedang mempelajari: Resonant Leadership, bagaimana menjadi agent of change, bekerja dengan Para Pemimpin, Bagaimana berpandangan Humanis (Kemanusiaan), dan membantu dengan cara pandang Theory Y (Semua orang pada dasarnya baik)

No comments:

Post a Comment