Monday, September 27, 2010

SEPOTONG CAKE

Dalam hidup kita pasti pernah mengalami ‘badai berat’

....Gagal dalam membina hubungan (baca: diputus pacar tersayang, atau yang lebih berat lagi, ditinggal menikah)....
....Orang dekat kita meninggal...
....Ditipu ama teman deket (baca: pinjem duit alasan buat modal, eh malah kabur bawa duit kita)...
....Di minta mundur dari Perusahaan (uupppss...)
....dsb, dsb, dsb

Mungkin pernah ya atau malah semuanya, atau bahkan yang lebih dasyat lagi, badai berat datangnya bersama-sama.
Yang ada dipikiran kita pasti “WHY ME?”

Thinking kita pasti bilang:
....Yo wis sing sabar....
....apes....
....ok, if it doesn’t kill you, it will make you stronger....

Thinking is thinking, but the most important is we chose do not feel and live in suffer. Being suffer is an optional!
Ok, saya akan bagikan sedikit cerita yang semoga mencerahkan hari ini, dan minggu ini
(Thanks to Pak Ino Yuwono, for share and let me learn)
-------------------------------------------------------------------------


Seorang gadis pulang menangis...datanglah sang Ibu yang bijak, memeluk anak tersayangnya sambil berkata: ada apa tho, nduk?
Si Gadis sambil tersedu berkata: “Hari ini kekasihku meninggalkanku demi sahabat karibku. Ternyata feelingku benar selama ini. Mereka jadian di belakangku...”
Ibunya mendengar dengan penuh pengertian. Dan berkata, “ayo kita ke dapur, Ibu akan memasakkan sesuatu special untukmu. Yang ibu yakin, ini akan membuatmu merasa lebih baik”

Dan mereka berdua ke dapur indah, dimana Ibunya banyak menghabiskan waktu disana,menyiapkan masakan-masakan istimewa penuh cinta untuk seluruh anggota keluarga.

Si Gadis tidak memperhatikan apa yang dilakukan ibunya. Dia terus menangis, menyesali apa yang baru saja terjadi. Tiba-tiba sang Ibu membuyarkan kesedihannya, “Bagaimana kalau ibu membuatkanmu Cake kesukaanmu?”
Si gadis pun setuju.

Ibu mengeluarkan beberapa persediaan bahan-bahan kue dari lemari.
“Nak, makanlah tepung ini” kata sang Ibu.
“Apa, ibu bercanda, aku disuruh makan tepung?” tanya si Gadis
“Well, kalo gitu gimana kalo makan telur ini?”
“Ibu, apa yang ibu pikirkan. Aku bisa sakit memakan telur mentah itu” jawab si Gadis
“Oke, kalau begitu bagaimana dengan Gula ini?”
“Ibu, aku bukan semut yang bisa memakan Gula begitu saja”

Sang ibu meletakkan semua bahan-bahan mentah yang dia tawarkan kepada si Gadis. Dan beliau mulai menyampaikan pesan dari semua itu:
Anakku, coba perhatikan bahan-bahan ini. Apa yang baru saja ibu lakukan adalah analogi Pesan Kehidupan dari Sang Maha Agung.

Bayangkan, Telur – Tepung – Gula yang tidak bisa kita nikmati tanpa di olah. Coba bayangkan apabila kita sudah mengolahnya penuh cinta, apa jadinya...pasti akan menjadi Cake lezat yang akan disukai banyak orang.

Well, kehidupan seperti itu. Tuhan memberikan pengalaman-pengalaman Pahit, Manis, Tawar, agar kita bisa mengolahnya penuh cinta dan menjadi suatu Cake: Kedewasaan.
--------------------------------------------------



Semoga sharing saya pagi ini dapat membuat sahabat-sahabat saya mentertawakan segala kepahitan.

Well, apapun badai yang datang ½ kg Telur, masalah yang lain Cuma 1 kg tepung, dan kekesalan minggu lalu Cuma ½ kg gula...


Kita Cuma butuh menambahkan keju, coklat, rhum..(analogi dari: rasa cinta, rasa damai, rasa memaafkan, humor, dan perasaan-perasaan positive lainnya).


Cring, jadilah Cake terlezat di dunia ini (analogi dari: individu baru yang semakin kuat, mantap, dewasa serta bijak)



PAIN IS INAVITABLE. SUFFER IS OPTIONAL
(Sakit adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Menderita adalah pilihan)

4 comments:

  1. trimakasih, versi selanjutnya mungkin adalah sebatang coklat, se-cup ice cream, atau setoples batang keju , banyak filosofi yang bisa dihali dari berbagai makanan tersebut (selain juga cita rasanya :) )

    ReplyDelete
  2. Thanks Sist...
    Akan di pikirkan analogi makanan2 tsb untuk menjadi cerita inspirational

    Thanks again atas masukannya...

    ReplyDelete